• Telepon

    +6224 7608203, 7610121
  • Alamat

    Jl. Madukoro AA-BB No.44 Semarang 50144
  • Email

    esdm@jatengprov.go.id

Berita

Pembangunan Demplot Biogas di Desa Karangrejo Kabupaten Kebumen

Pembangunan Demplot Biogas di Desa Karangrejo Kabupaten Kebumen

PURWOREJO (13/01/2022) – Cabang Dinas ESDM Wilayah Serayu Selatan pada tahun 2021 melaksanakan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, salah satunya adalah pembangunan Biogas Permanen yang ini dinamakan Pelaksanaan Konservasi Energi di Wilayah Provinsi dengan dana yang berasal dari APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2021.

Lokasi pembangunan di salah satu wilayah kerja Cabdin ESDM Wilayah Serayu Selatan, tepatnya di Desa Karangrejo, Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen, dengan penerima bantuan adalah Kelompok Tani Ternak Sura Madu. Pengerjaan biogas di desa Karangrejo dimulai tanggal 27 Oktober 2021 dan sudah diserahterimakan pada tanggal 30 November 2021.

Biogas di Desa Karangrejo Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen terbuat dari bahan permanen yaitu batu bata dan semen. Kelebihan digester permanen ini adalah : bahan tahan lama (bisa lebih dari 20 tahun; kokoh, kuat tahan cuaca; mudah dioperasikan; perawatan mudah dibandingkan tipe lainnya; dan lebih efisien.

Digester Biogas ini mempergunakan kotoran sapi yang berasal dari kandang komunal sebagai bahan bakunya. Dengan jumlah sapi yang mencapai 40 ekor di kandang komunal tersebut menghasilkan kotoran sapi yang sangat mencukupi sebagai bahan baku demplot Biogas.

Adapun kriteria untuk pembuatan demplot Biogas adalah sebagai berikut:

1.    Memiliki sapi sejumlah minimal 6 ekor;

2.    Memiliki lokasi tanah minimal seluas 10 m2 sebagai lokasi pembangunan demplot Biogas;

3.    Dekat dengan sumber air dan persediaan yang cukup untuk bahan pengencer kotoran ternak;

4.    Lokasi biogas tidak terlalu jauh dari dapur sebaik­nya jarak dengan dapur kurang dari 100 m agar pipa biogas dapat bekerja dengan maksimal.

 

Ada tiga hal yang perlu dipedomani dalam pengoperasian dan kegiatan harian agar dapat dihasilkan gas yang memenuhi syarat yaitu faktor yang mempengaruhi pembentukan biogas, langkah kerja pengoperasian alat dan kegiatan harian.

Faktor yang mempengaruhi pembentukan Biogas adalah sebagai berikut:

1.    Bahan baku isian (kotoran) yang mempunyai rasio perbandingan Carbon terhadap Nitrogen (C/N) lebih tinggi akan lebih banyak menghasilkan gas dibanding yang rasio C/N lebih rendah. Sehingga kotoran sapi dan kerbau akan lebih banyak menghasilkan gas dibandingkan dengan kotoran ayam dalam jumlah yang sama.

2.    Kadar keasaman (pH) yang optimal adalah 6-8. Mengukur pH dapat menggunakan kertas lakmus yang bisa dibeli di apotek.

3.    Digester biogas diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari langsung sehingga memperoleh suhu yang optimal yaitu 35°C.

4.    Perlu dilakukan pengadukan agar tidak terjadi kerak (scum) di lapisan atas atau permukaan cairan yang menye­babkan produksi menurun.

Langkah kerja pengoperasian alat adalah sebagai berikut:

  1. Masukkan faeces ke dalam bak digester, singkirkan benda-benda keras, misalnya batu, kerikil, potongan kayu, dan lain-lain yang dapat mengganggu proses. Agar pemasukan faeces berjalan lancar, perlu dibantu dengan sekop atau cangkul dan menyiramkan air dengan ember (Jawa: menggelontor). Volume air yang masuk ke dalam digester sekitar 3 ember setiap memasukkan 2 ember fae­ces atau dengan perbandingan volume faeces : volume air = 2 : 3.
  2. Gas mulai terbentuk pada hari kesepuluh. Gas yang terben­tuk pada hari ke-10 hingga hari ke-20 harus dibuang karena masih bercampur dengan oksigen dari ruang penampung gas. Campuran gas metan dan udara dalam kadar 5%-14% bila dibakar akan meledak. Setiap kali dilakukan pembu­ang­an fas dari bak penampungan gas, lebih-lebih pembu­angan gas pertama, di sekitar lokasi tidak boleh ada api sekalipun hanya api rokok, karena api tersebut dapat mem­bakar gas yang keluar. Maka, disarankan saat melaku­kan pekerjaan ini tidak merokok.
  3. Sejak hari ke 21 gas yang dihasilkan sudah dapat diguna­kan untuk kompor dan penerangan. Alirkan gas ke kompor gas dengan membuka kran atau gas yang dihasilkan ini di­tampung terlebih dahulu ke dalam tangki gas selanjutnya dimanfaatkan untuk menyalakan kompor gas atau pene­rangan. Besar kecil tekanan gas dapat diatur dengan mem­beri beban atau tekanan pada bak penampung gas. Dalam peralatan yang dibuat ini beban tersebut berupa rantai peng­ikat yang dapat dikencangkan atau dikendorkan.

Kegiatan harian:

1.    Penambahan umpan kotoran yang sudah diencerkan dengan air

2.    Pengadukan setiap hari agar tidak terbentuk kerak di permukaan cairan

3.    Perawatan saluran pengeluaran

Hasil pengolahan demplot Biogas yang berasal dari APBD Pemerintah provinsi Jawa Tengah tersebut sudah bisa dinikmati sebagai bahan bakar kompor Biogas untuk 6 (enam) kk dan juga dimanfaatkan sebagai lampu untuk penerangan kandang sapi. Pembuatan biogas dari kotoran ternak tidak menghilangkan manfaat lain sebagai pupuk kandang. Sebaliknya pupuk yang dihasil­kan justru menaikkan kandungan bahan organik sehingga pupuk kan­dang yang dihasilkan lebih baik yang dinamakan Slurry. Pupuk tersebut terbentuk dari sisa proses fermentasi bahan baku kotoran sapi tadi yang memang harus dikeluarkan secara berkala agar tidak terjadi endapan padat yang dapat mengganggu proses pembentukan biogas.

 

Masyarakat penerima manfaat Demplot Biogas di Desa Karangrejo Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen sangat mengapresiasi keberadaan Demplot Biogas karena selain bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor biogas dan lampu biogas serta pupuk kendang, dengan adanya biogas membuat lingkungan sekitar kandang lebih bersih dan sangat mengurangi bau tidak sedap yang pada awalnya berasal dari kotoran sapi yang menumpuk sehingga lingkungan menjadi lebih sehat.