Kembali ke Berita

Dulu Habis Rp 80 Juta Semusim, Kini Warga Desa Krandegan Purworejo Panen Tiga Kali Setahun berkat PATS

24 June 2026 Cabang Dinas ESDM Wilayah Serayu Selatan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi 171 pembaca
Dulu Habis Rp 80 Juta Semusim, Kini Warga Desa Krandegan Purworejo Panen Tiga Kali Setahun berkat PATS

Kompas.com - Matahari baru merangkak naik ketika suara gemericik air mulai terdengar di hamparan sawah seluas puluhan hektare.

Air mengalir melalui pipa-pipa besar menuju petak-petak lahan yang selama puluhan tahun hanya bergantung pada hujan.

Di tengah sawah di Desa Krandegan, deretan panel surya berkilau memantulkan cahaya pagi sudah terlihat dari kejauhan.

Tak ada suara mesin diesel yang meraung seperti dulu. Tak ada pula aroma solar yang menyengat.

Yang terdengar hanya suara pompa yang bekerja mengangkat air dari sungai menuju lahan pertanian.

Empat tahun lalu, pemandangan seperti ini sulit dibayangkan.

Wilayah pertanian seluas sekitar 70 hektare itu merupakan sawah tadah hujan. Petani hanya bisa menanam padi satu kali dalam setahun, atau paling banyak dua kali jika curah hujan cukup baik.

"Kami dulu mengairi sawah dengan pompa berbahan bakar solar. Biayanya sangat besar dan hasilnya tidak maksimal," kata Dwinanto, Kepala Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah saat ditemui pada Rabu (10/6/2026).

Ia juga menjadi inisiator program pompa tenaga surya di desa tersebut.

Dulu sebelum adanya pompa air tenaga surya ini, setiap musim tanam, petani harus mengeluarkan biaya hingga Rp 80 juta untuk mengoperasikan pompa berbahan bakar diesel.

Sekitar Rp 50 juta digunakan membeli bahan bakar, sementara Rp 30 juta lainnya untuk perawatan dan tenaga kerja.

“Dulu beli BBM solar saja semalam habis Rp 500 ribu, dalam sekali musim panen bisa puluhan juta, Mas,” kata Dwinanto.

Biaya itu menjadi beban besar bagi petani.

Namun pada 2022, sebuah perubahan dimulai. Melalui bantuan pemerintah provinsi yang kemudian diperkuat dana desa, dukungan CSR, dan investasi swasta, desa tersebut mulai membangun sistem pompa air tenaga surya.

Dwinanto mengatakan, keputusan itu lahir bukan sekadar mengikuti tren energi hijau. Ada persoalan nyata yang ingin diselesaikan.

Pertama, biaya operasional yang terus membengkak. Kedua, keterbatasan air yang membuat petani sulit meningkatkan produktivitas dan yang ketiga, kesadaran bahwa ketergantungan terhadap energi fosil tidak dapat dipertahankan selamanya.

"Kami berpikir bagaimana mengubah energi fosil menjadi energi yang lebih ramah lingkungan dan lebih ekonomis," ujarnya.

Foto : Kompas.com

Dilansir dari laman : https://regional.kompas.com/read/2026/06/10/122615978/dulu-habis-rp-80-juta-semusim-kini-warga-desa-krandegan-purworejo-panen

Bagikan Informasi
// */