18 Sumur Artesis Ditutup

11 November 2017 | Semarang Metro

SEMARANG- Sepanjang 2016 dan 2017, Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, menutup 18 sumur artesis. Sebagian besar berada di zona kritis yang dipergunakan untuk konservasi air. Kadinas ESDM Jateng, Teguh Dwi Paryono mengatakan, mulai 2017, pengurusan izin pengambilan air bawah tanah (ABT) melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah.

Penerbitan izin harus memperoleh rekomendasi teknis dari Dinas ESDM Jateng. ”Ada 20 titik sumur yang kami terbitkan rekomendasi teknis. Satu di antaranya kami tolak. Kami juga sudah menutup sumur di zona kritis dan sumur ilegal. Ada 18 titik,” kata dia, Jumat (11/10).

Sebanyak 15 sumur artesis yang ditutup, yakni sembilan sumur di antaranya milik PT Pelindo III Cabang Pelabuhan Tanjung Emas. Sisanya sumur artesis sejumlah perusahaan, seperti PTKodja Bahari, PT Jasa Marina Indah dan PT Lamicitra Nusantara yang berada di kawasan pelabuhan.

Dinas juga menutup tiga sumur yang ada di permukiman warga, yakni di Banyumanik, Jalan Siliwangi, dan Tembalang. Penolakan terkait lokasi pengeboran berada pada zona kritis. Rencana pengeboran untuk tujuan komersial tidak sesuai yang direkomendasikan, yakni pada kedalaman lebih dari 150 meter.

Selain pengetatan pengambilan ABT di zona kritis, pihaknya juga meminta kepada pemegang izin untuk mengurangi debit sebesar 10% sampai 15?ri izin lama atau melihat perubahan lingkungan muka air tanah (MAT) dari sumur pantau. ”Zona kritis itu untuk koservasi saja. Sebaiknya tidak usah mengajukan izin pengambilan ABT. Lebih baik pakai PDAM,” imbuh dia.

Banyak Ilegal

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah, Hadi Santoso mengatakan ditengarai masih banyak terdapat sumur artesis ilegal. Pasalnya, saat ini hanya 76 pengusaha di Jawa Tengah yang terdaftar memiliki sumur artesis berizin. Selebihnya, dia menengarai sumur artetis yang ada di luar pengusaha yang terdaftar disebut ilegal.

Sepanjang tahun ini, di Jateng ada 1.736 izin baru sumur artesis di luar zona kritis yang telah dikeluarkan Dinas ESDM Jateng. ”Ditengarai masih banyak sumur artesis ilegal. Ini sudah di luar kemampuan dinas yang membidangi dan legislatif. Ini sudah ranah aparat penegak hukum. Ranah eksekutif mengawasi dari sisi perizinan,” kata dia.

Teguh tidak menampik adanya sumur artesis ilegal. Pengawasan dilakukan secara manual dengan memanfaatkan informasi dari masyarakat, menghitung kapasitas kebutuhan dan debit air yang diajukan dalam izin sampai menggunakan alat pendeteksi logam. ”Kami ada kendala kalau pakai alat pendeteksi logam.

Bisa saja langsung ketemu logam, tapi kadang kan tidak sumur artesis, tapi logam lain. Di situ kendalanya. Tidak semua bisa ditertibkan,” imbuh dia. Kendala lain yang dihadapi berupa pengebor yang tidak tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Pengeboran Air Tanah Indonesia (Appatindo) Jawa Tengah.

Menurut dia, selama ini, asosiasi tersebut melaporkan secara berkala lokasi yang dibor. Namun, dia luar asosiasi terdapat pengebor yang disewa oleh pemilik usaha dengan desain pipa dan kapasitas produksi yang diatur sendiri sesuai kebutuhan. ”Di situ kami kesulitan mengawasi.

Kami sudah tolak saat ada izin yang tidak sesuai. Namun, bila ada yang membuat tanpa izin, perlu usaha ekstra menemukan dan menindaknya. Biasanya kami tutup sumurnya dan kami sita peralatannya,” ujar dia.(H74,K18-38)
Sumber: http://www.suaramerdeka.com/smcetak/detail/14857/18-Sumur-Artesis-Ditutup#