ASN jangan menjadi “penumpang” namun harus menjadi “pengemudi”

Semarang – Dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan sehari-hari, aparatur sipil negara (ASN) jangan menjadi “penumpang” namun harus menjadi “pengemudi”. Artinya sebagai abdi masyarakat, ASN harus tahu arah tujuan pekerjaan, merawat dan menjaga lembaga, mempunyai inisiatif, berani mengambil risiko, serta bisa menjadi solusi bagi orang lain.

Perumpamaan itu disampaikan Ustad Wijayanto saat pengarahan pada Program Revolusi Mental bertema “Kerja Keras, Kerja Ikhlas, dan Kerja Tuntas”, di hadapan sekitar 200 ASN yang terdiri dari asisten, kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Jateng, dan OPD kabupaten/kota, di Wisma Perdamaian, Kota Semarang, Jumat (31/3).

“Kalau ASN menjadi ‘penumpang’, maka boleh mengantuk dan tidur, tidak harus tahu jalan, posisi dimana, serta tidak mempunyai inisiatif untuk mencari solusi jika salah arah atau tidak tahu jalan,” ujar Wijayanto.

Ia mengatakan, ASN dituntut meningkatkan kemampuan, pengetahuan, serta kapasitas diri untuk berubah ke hal yang lebih baik, terutama dalam pelayanan kepada rakyat. Sehingga, tidak ada lagi penilaian bahwa ASN dalam menjalankan pekerjaan sekadar berdasar peraturan-peraturan dan perintah atasan. ASN harus berani dan mau merubah budaya kerja yang lebih disiplin, bertanggung jawab, serta mengedepankan kebersamaan dan gotong-royong.

“Persoalannya pada kemauan, karena tidak sedikit orang tahu dan mampu melakukan perubahan tetapi belum tentu mau. Menjadi orang baik itu pilihan dan semua orang bisa menjadi baik asal ada kemauan, maka mulai sekarang tulis apa yang dikerjakan, kerjakan apa yang ditulis,” tegasnya.

Lebih lanjut Wijayanto menjelaskan, bekerja harus dengan perasaan bahagia dan suasana lingkungan yang menyenangkan. Karena jika suasana hati dan lingkungan tidak happy maka akan menimbulkan banyak masalah, mengakibatkan orang stres, mudah marah atau emosional, sering berbohong, dan malas melakukan pekerjaan sehingga tugas terbengkalai bahkan tidak tuntas.

Menurut dia, salah satu indikasi karyawan tidak happy atau bahagia adalah sering mengantuk, seringkali hanyak menyandarkan kepala di meja atau tangan dan malas bekerja. Selain mengantuk, ciri-ciri karyawan atau pegawai tidak bahagia adalah suka marah, membentak atau berteriak dengan suara keras tanpa ada alasan jelas.

“Orang tidak happy biasanya suka marah dan berteriak-teriak tidak jelas, kalau ada orang seperti itu maka mentalnya harus direvolusi. Sehingga kinerja meningkat dan menjadi abdi negara yang sekadar melaksanakan peraturan-peraturan serta hanya menjalankan perintah atasan,” kata dosen UGM ini.

Wijayanto menjelaskan, delapan pekerjaan harus bisa dimaknai bahwa kerja adalah rahmat sehingga bekerja dengan tulus dan penuh syukur, kerja adalah amanah maka bekerja penuh tanggungjawab, kerja adalah panggilan, aktualisasi, ibadah sehingga melaksanakannya penuh kecintaan.

“Selain itu kerja adalah seni karena itu melakukannya penuh kreativitas, kerja adalah keharmonisaan, dan pelayanan sehingga menjalankannya dengan kerendahan hati,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Drs H Heru Sudjatmoko dalam sambutannya meminta supaya para ASN berubah ke arah yang lebih baik untuk sekarang dan seterusnya, senantiasa melaksanakan tugas dengan penuh ikhlas. Sehingga kedisiplinan dan semangat kerja meningkat serta kinerja menjadi lebih baik.

“Selama ini kalau bekerja hanya termotivasi karena peraturan atau perintah atasan maka bila tidak ada atasan kinerja akan berkurang. Sehingga akan lebih baik jika bekerja dimulai keikhlasan agar selalu semangat dan hasilnya tidak hanya tuntas tetapi juga bermanfaat,” terangnya.

Dalam filosofi orang Jawa, kata dia, merubah mental seseorang diibaratkan dengan sebutan Jagat Cilik dan Jagat Gedhe. Istilah Jagat Cilik artinya merubah mental dimulai dari diri sendiri dengan mengikis sifat-sifat buruk pribadi seperti berbohong, iri hati, dengki, suka berprasangka buruk terhadap orang lain.

Sedangkan Jagat Gedhe, perubahan tidak hanya secara pribadi melainkan juga terhadap lingkungan, baik dengan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan tempat bekerja atau belajar. Sehingga tercipta suasana harmonis, rukun, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Penulis : Mn, Humas Jateng
Editor : Ul, Diskominfo Jateng