Operasi Senyap Sita Empat Alat Berat

Operasi Senyap Sita Empat Alat Berat

MAGELANG, suaramerdeka.com – Dengan Operasi Senyap tim Polda Jateng membongkar praktik penambangan liar di lereng Gunung Merapi, Selasa (3/5) dini hari. Dalam operasi itu polisi menyita empat alat berat yang digunakan untuk menambang pasir secara ilegal di Sungai Senowo, Dusun Munthuk, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun.

Keempat alat berat milik CV Barokah Merapi tersebut selanjutnya dibawa ke kantor Balai Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Solo. Ikut juga disita 11 tangki berisi bahan bakar solar.
‘’Tiga alat berat tertangkap tangan sedang beroperasi dan satu alat berat rusak. Semua kami sita,’’ ujar Kanit Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Polda Jateng Kompol Sapuan di lokasi kejadian.

Uniknya, operasi penertiban ini tidak melibatkan unsur kepolisian dari Polsek Dukun maupun Polres Magelang. Kompol Sapuan hanya ditemani lima personel polisi dan dua anggota CPM TNI dari Kodam IV Jawa Tengah.
Personel Polda dan Kodam sampai di lokasi penambangan sekitar pukul 04.00. Kedatangan polisi itu membuat para penambang terkejut. Hingga pagi hari ratusan penambang terlihat berkumpul di sekitar lokasi penambangan. Namun tidak ada kekerasan dalam penertiban ini.

Penertiban ini dilakukan karena para penambang belum mengantongi izin penambangan. ‘’Barang bukti kami amankan dan dititipkan ke ESDM Jawa Tengah di Solo,’’ujar Sapuan. Sapuan berjanji razia tidak akan berhenti di wilayah Dukun saja namun seluruh wilayah penambangan di Kabupaten Magelang.

Hal ini akan dilakukan menunggu perintah dari Polda Jawa Tengah. Sebelumnya, Kepala Balai ESDM Wilayah Solo Soeseno menegaskan seluruh kegiatan penambangan di Kabupaten Magelang adalah ilegal.
Pasalnya, pihaknya belum mengeluarkan izin untuk kegiatan produksi penambangan. Dijelaskan ada 27 operator alat berat yang mengajukan izin usaha pertambangan di Kabupaten Magelang.
Bekingi Aparat, Salah satu warga Merapi Sugiyono mengatakan penambangan alat berat sudah meresahkan masyarakat. Pasalnya, penambang nekat mengeruk bibir sungai yang menjadi tanggul alami pencegah banjir lahar Merapi. Penambangan juga sudah merusak mata air dan jalur evakuasi Merapi.

Terpisah, Kepala Dinas ESDM Jateng Teguh Dwi Paryono mengatakan, selama ini ada beking aparat di balik maraknya galian C di provinsi ini. ‘’Dengan adanya aparat yang menjadi beking, malah enak ngomongnya,’’ tuturnya.

Saat ini tercatat ada 950 hektare kawasan yang ilegal dan sudah ditertibkan seluas 850 hektare. Padahal untuk menertibkan, banyak persoalan yang dihadapi di lapangan. Pakar lingkungan hidup Universitas Diponegoro, Prof Sudharto P Hadi mengatakan, galian C merupakan persoalan pelik.

Untuk menertibkan dibutuhkan komitmen dari Pemprov Jateng, pemerintah kabupaten/kota, serta peran serta masyarakat. Jika memang tidak berizin, pemprov bisa langsung menutupnya dengan mengacu UU No 32/2009 tentang lingkungan.

Menurut Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso, galian C lebih banyak merusak lingkungan. Bahkan, pendapatan asli daerah dari sektor ini tergolong kecil dan tidak bisa setara dibandingkan dengan kerusakan lingkungan. (H66,J8,H81-90)

Sumber http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/operasi-senyap-sita-empat-alat-berat/

Menuju Masyarakat Sejahtera Melalui Penguatan Pengelolaan ESDM dan Kemandirian Energi dengan tetap mengacu pada prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.