• 024 7608203
  • Jl. Madukoro AA-BB No.44 Semarang 50144

Tolak Penambangan Alat Berat, Ribuan Warga Mujahadah di Merapi

Tolak Penambangan Alat Berat, Ribuan Warga Mujahadah di Merapi

SRUMBUNG,suaramerdeka.com- Ribuan warga lereng Gunung Merapi menggelar aksi dan mujahadah untuk menolak penambangan alat berat di Jurang Jero, Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Acara bernama Doa Anak Gunung ini digelar Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Merapi.

Mereka membaca tahlil, ayat kursi, surat Al Ikhlas dan lainnya di atas sabodam Kali Putih. Para peserta aksi yang terdiri warga dan santri juga membawa berbagai tulisan berisi penolakan penambangan alat berat. Diantaranya berbunyi “Alamku Alammu Alam Kita,” “Selamatkan Sumber Air Demi Anak Cucu Kita,” “Lestari Alamku Lestari Bumiku,” “Hentikan Penambangan dengan Alat Berat,” dan lainnya.

Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Merapi ini merupakan gabungan warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi yakni Desa Tegalrandu, Desa Ngargosoko, Desa Mranggen, Desa Bringin dan Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Mereka menilai penambangan di hulu Kali Putih akan menimbulkan kerusakan alam.

Mereka menuju kawasan Jurang Jero dengan menggunakan 27 armada truk, 15 kendaraan pribadi dan ratusan sepeda motor. Sesampainya di Jurang Jero, mereka duduk bersila di atas sabodam lalu menggelar doa bersama.

Pimpinan Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Merapi KH Ahmad Bahakudin Sah menyatakan pihaknya menolak penambangan alat berat karena mengancam kelestarian alam di lereng Gunung Merapi. Warga khawatir jika lingkungan Merapi rusak maka mata air akan mati dan warga akan kesulitan air bersih.

Disebutkan aksi penolakan dilakukan karena penambangan Galian C gunung Merapi dengan alat berat semakin meluas. “Kami prihatin alat-alat berat justru mendominasi pengerukan sumberdaya alam di Merapi. Penambang manual oleh mayoritas masyakat menengah kebawah justru semakin terpinggirkan dan hanya mengais sisanya saja,” kata KH Ahmad Bahakudin Sah, Jumat (9/3).

Menurut KH Ahmad Bahakudin Sah penambangan alat berat akan membahayakan saluran irigasi dan mengurangi debit mata air. “Jika penambangan tidak dikendalikan, kami khawatir irigasi rusak dan mata air mati. Padahal air adalah sumber kehidupan bagi petani dan mayoritas masyarakat Srumbung adalah petani,” kata dia.

Koordinator Aksi KH Ahmad Wahib menjelaskan aksi ini bukan yang pertama kali. Dikatakan bahwa masyarakat Merapi sudah melayangkan surat keberatan dan penolakan kepada Kapolda Jawa Tengah, Kajati dan Gubernur Jawa Tengah, Kapolri, KPK, Dirjen BKSDA, serta Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

”Usaha kami tersebut hingga kini masih minim tanggapan dari pemerintah. Perlu diketahui bahwa aksi ini murni dari masyarakat, tidak ada yang bayaran. Bahkan untuk beli air mineral pun juga kami patungan,” kata dia.

(MH Habib Shaleh/SMNetwork/CN38)

Menuju Masyarakat Sejahtera Melalui Penguatan Pengelolaan ESDM dan Kemandirian Energi dengan tetap mengacu pada prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.