Breaking News
Breaking News
02 Desember 2022Mongabay, Karanganyar – Kampung Dukuh, Desa
Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini
tergolong terpencil. Ada hutan keramat
Krendowahono, dengan situs sejarah dan budaya di desa ini. Nama desa berasal
dari kata krendo atau keranda dan wahono yang berarti hutan. Dulu, tempat ini dipercaya sebagai pembuangan
narapidana Keraton Surakarta.
Sungai Cemoro di pinggir desa menjadi pembatas
wilayah antara Kabupaten Karanganyar dan Sragen di sisi timur. Sekitar tiga
kilometer ke arah utara terdapat Museum Sangiran, yang merekam jejak manusia
purba. Berjarak satu kilometer di sisi selatan ada Museum Dayu yang merekam hal
sama. Sebelah barat desa adalah Jalan Solo Purwodadi.
Warga Desa Krendowahono kebanyakan petani
hutan dan peternak. Sebagian lahan mereka tanami dengan jati. Kontur wilayah
berbukit dengan tanah berkapur.
Selama ini,
mereka mengeluhkan sulit mendapatkan air bersih. Untuk minum sehari-hari
warga mengandalkan air isi ulang. Sebagian penduduk terpaksa mencari air ke
sumur emas, mata air yang tak pernah kering di Dayu, desa tetangga.
Pada Oktober 2019, Sholikin, warga kampung Dukuh itu membuat
sumur bor dengan bantuan Baznas. Tak cuma sekali dia membuat lubang. Setelah
mengebor sedalam 120 meter lagi-lagi yang didapat hanya air asin.
“Suatu malam, kami berkumpul sambil mengobrol
di dekat lubang sumur bor. Saat itu air surut. Karena penasaran kami mendekat
ke lubang sumur dan menyalakan korek api. Kami kaget, tiba-tiba api langsung
menyambar,“ kata Sholikin, juga ketua RT di Kampung Dukuh.
Kabar sumur dengan air yang bisa menyala di
pekarangan milik Sholikin itupun menyebar. Banyak orang lalu tertarik
mengunjungi rumahnya. Sumur api Krendowahono juga viral di media sosial.
Khawatir membahayakan, sumur pun diberi garis polisi oleh aparat.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Jawa Tengah lalu menerjunkan tim meneliti kandungan air dan fenomena sumur api
ini. Saat itu, Sholikin belum tahu pasti penyebab mengapa air yang keluar dari
sumur bor bisa terbakar atau mengeluarkan api.
Tak ingin menyia-nyiakan sumber api, kala itu
diapun memasang tungku sederhana terbuat dari kaleng bekas. Di atasnya
diletakkan wajan atau panci untuk memasak. Warna api oranye kemerahan.
“Ada sekitar satu tahun saya kalau masak di
luar,” kata Ika, istri Sholikin.
i sumur bor yang terletak di
pekarangan samping rumah itu Ika biasa menjerang air atau masak makanan.
Awalnya, warga hanya menonton, kemudian
tak sedikit tetangga yang ikutan memanfaatkan kompor di atas lubang sumur bor
itu. Sumber api menyala 24 jam.
Kini Ika tak perlu lagi
membawa peralatan masak ke pekarangan. Instalasi pipa sepanjang sekitar 25
meter telah menghubungkan sumber api itu ke kompor dapur di dalam rumah.
Jaringan pipa juga menjangkau rumah tetangganya.
Kesulitan air bersih itu
menjadi berkah lain. Sudah hampir tiga tahun Ika mampu mengurangi pengeluaran
bulanan karena nyaris tak perlu lagi membeli gas elpiji. Dia hanya membeli
untuk cadangan atau jika ada kebutuhan memasak lebih banyak dan cepat.
“Sebenarnya cukup tanpa harus
membeli tabung gas melon. Tapi agak lama karena tungku cuma satu,” katanya
sambil memasak air.
Kini, tak perlu waktu lama
mendidihkan air. Api berwarna biru dengan tekanan gas cukup besar.
Menurut Sholikin, ada 30 rumah
menikmati jaringan pipa gas dari sumur bor miliknya. Masing-masing rumah hanya
boleh menyambungkan ke satu titik tungku. Kalau lebih dari satu tekanan gas
akan turun hingga panas berkurang.
Menurut Ika, gas tidak bisa
selama 24 jam karena mesin instalasi istirahat beberapa jam pada malam hari dan
aktif lagi keesokan hari.
Dengan gas rawa ini, warga
Kampung Dukuh bisa berhemat. Masing-masing rumah hanya kena biaya Rp20.000
setiap bulan. Sebanyak Rp10.000 untuk biaya perawatan. Sangat murah kalua
dibandingkan membeli gas melon yang di pasaran sekurang-kurangnya Rp20.000
untuk penggunaan kurang lebih satu minggu.
Warga hanya gunakan gas untuk
keperluan memasak sehari-hari. Belum ada yang memanfaatkan untuk usaha kecil
guna menambah pendapatan keluarga.
“Sementara hanya untuk
keperluan rumah tangga. Kalau bisa untuk jualan makin hemat. Semoga lama-lama
bisa untuk mencari pendapatan tambahan,” harap Ika.
Dinas ESDM Jawa Tengah
mengalokasikan dana sekitar Rp200 juta untuk pembangunan pipa jaringan dan
instalasi biogenic shallow gas di Krendowahono.
“Salah satu yang agak sulit
adalah memisahkan gas dari air. Seperti di Krendowahono itu bisa kita
manfaatkan gasnya untuk 60 rumah tangga. Tapi anggaran kita hanya bisa membantu
30 rumah tangga. Ini yang sedang kita dorong agar mereka menambah sendiri,”
katanya.
Marlistya Citraningrum,
Manager Program Akses Energi Berkelanjutan Institute for Essential Services
Reform (IESR) mengatakan, gas biogenik dari senyawa organik seperti tanaman dan
rerumputan yang membusuk dan terurai dengan bantuan bakteri. Karena berasal
dari residu senyawa organik, umumnya gas biogenik ditemukan di lapisan tanah
dangkal dan mudah ditemui.
“Karena jumlah relatif kecil
dan tersebar, gas biogenik harus dimanfaatkan atau dinaikkan tekanannya hingga
mudah dialirkan dan digunakan.”
Untuk itulah, selain separator
juga perlu kompresor. Terlebih kalua penerima manfaat cukup banyak dan tersebar
di beberapa lokasi.
“Beberapa desa di Jawa Tengah
memiliki potensi gas biogenik cukup banyak. Sedikitnya ada delapan daerah punya
potensi gas rawa, yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk
memasak. Instalasi pemanfaatan gas biogenik ini juga relatif berbiaya rendah
dan bisa digunakan secara komunal.”
Bersama Dinas ESDM Jawa
Tengah, IESR mengadakan Jelajah Energi kedua pada 10 hingga 11 November lalu.
Kegiatan ini bertujuan mengangkat isu transisi energi di Jawa Tengah,
diseminasi informasi, serta meningkatkan eksposur industri hijau dan program
kampung iklim di Jawa Tengah.
Desa Krendowahono, menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi
peserta yang terdiri dari wakil instansi, perguruan tinggi, dan media.